ANALISIS FAKTOR TRANSFORMASI PADA PERBANDINGAN UNSUR NILAI MITONI TERHADAP PRESPEKTIF HUKUM ADAT DAN HUKUM ISLAM

Penulis

  • Agisa Riris Haryaningsih Universitas Tidar
  • Dimar Ciptaning Pramesthi Universitas Tidar
  • Saniatur Rizky Septyani Universitas Tidar
  • Tri Wahyuningtias Universitas Tidar
  • Jihan Rupa Puspa Ayu Universitas Tidar

Kata Kunci:

Mitoni, Nilai-Nilai Agama, Budaya Nasional

Abstrak

Mitoni adalah salah satu upacara adat Jawa yang dilakukan pada masa kehamilan sekitar tujuh bulan atau tujuh hari sebelum proses melahirkan. Upacara ini bertujuan untuk memberikan doa dan harapan agar proses kelahiran berjalan lancar, bayi dan ibu selamat, serta mendapatkan berkah dan perlindungan dari Tuhan. Mitoni juga menjadi momen untuk mengungkapkan rasa syukur atas kehamilan yang berjalan lancar dan untuk memohon bimbingan serta perlindungan dari leluhur dan roh-roh penjaga. Tradisi mitoni juga sering disertai dengan pemberian sesaji dan adat lainnya yang melibatkan keluarga dan kerabat dekat.Tantangan mendasar dalam konteks hukum adalah menentukan bagaimana menyelaraskan dan memahami hubungan antara hukum Islam dan hukum adat. Memahami hubungan dan kemungkinan integrasi masyarakat antara hukum Islam dan hukum adat sangat penting di Indonesia, yang merupakan negara yang beragam dengan banyak etnis, budaya, dan keyakinan agama. Penggabungan ide-ide Islam ke dalam konvensi hukum sangat penting, terutama ketika mengembangkan sistem hukum terpadu yang mewakili legitimasi hukum masyarakat Melayu yang mayoritas beragama Islam. 

Mitoni is one of the Javanese traditional ceremonies performed during pregnancy around seven months or seven days before the birth process. This ceremony aims to provide prayers and hopes that the birth process goes smoothly, the baby and mother are safe, and get blessings and protection from God. Mitoni is also a moment to express gratitude for a smooth pregnancy and to ask for guidance and protection from ancestors and guardian spirits. The mitoni tradition is also often accompanied by the giving of offerings and other customs involving family and close relatives.The fundamental challenge in the legal context is determining how to harmonize and understand the relationship between Islamic law and customary law. Understanding the relationship and possible societal integration between Islamic law and customary law is particularly important in Indonesia, which is a diverse country with many ethnicities, cultures and religious beliefs. The incorporation of Islamic ideas into legal conventions is crucial, especially when developing a unified legal system that represents the legal legitimacy of the predominantly Muslim Malay community.

Unduhan

Diterbitkan

2024-05-31