EFEKTIVITAS PEMBINAAN TERHADAP ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK (LPKA) KELAS II KOTA PEKANBARU

Penulis

  • Diandra Akbar Maulana Universitas Riau
  • Evi Deliana Hz Universitas Riau
  • Ferawati Universitas Riau

Kata Kunci:

Pembinaan, Anak Berhadapan Dengan Hukum, Residivis

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena peningkatan residivis anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Kota Pekanbaru, yang mencatat kenaikan signifikan dari tahun 2022 hingga 2024. Peningkatan jumlah residivis anak ini mengindikasikan perlunya evaluasi mendalam terhadap efektivitas sistem pembinaan yang diterapkan, mengingat LPKA berfungsi sebagai tempat pembinaan anak yang berhadapan dengan hukum untuk menjalani masa pidana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pola pembinaan terhadap anak binaan, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta menganalisis upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Kota Pekanbaru. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris atau yuridis sosiologis. Penelitian dilakukan secara langsung melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan kuesioner. Populasi dan sampel penelitian melibatkan Kepala Seksi Pembinaan, Kasubsi Pendidikan dan Bimkemas, serta anak binaan residivis dan non-residivis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; pelaksanaan pembinaan terhadap anak di LPKA Kelas II Kota Pekanbaru belum berjalan secara efektif. Penyebab utamanya adalah belum tersedianya pola pembinaan yang membedakan antara anak binaan residivis dan non-residivis, di mana seluruh anak mendapatkan program yang disamaratakan. Faktor penghambat internal meliputi keterbatasan jumlah petugas pembina, keterbatasan tenaga pengajar profesional untuk pendidikan formal, serta minimnya sarana prasarana penunjang seperti proyektor dan komputer. Adapun faktor eksternal meliputi kurangnya pengawasan orang tua pascabebas, pengaruh negatif lingkungan pergaulan, serta rendahnya latar belakang pendidikan dan nilai moral anak binaan. Upaya yang dilakukan LPKA untuk mengatasi hambatan tersebut meliputi optimalisasi tugas personil yang ada, peningkatan kompetensi petugas, penguatan kerja sama kelembagaan dengan PKBM Pelita Riau dan Dinas Perpustakaan Kota Pekanbaru, pelibatan keluarga, serta usulan penyusunan program pembinaan khusus bagi anak residivis berbasis asesmen risiko.

This research is motivated by the phenomenon of rising juvenile recidivism at the Class II Special Development Institution for Children (LPKA) in Pekanbaru City, which recorded a significant increase between 2022 and 2024. This rise in juvenile recidivism highlights the need for an in-depth evaluation of the effectiveness of the implemented rehabilitation system, given that the LPKA serves as a facility where children in conflict with the law undergo their sentences. This study aims to examine the implementation of rehabilitation programs for the children in custody, identify the obstacles encountered, and analyze the efforts made to address these challenges at the Class II Special Development Institution for Children (LPKA) in Pekanbaru City. The research method employed is empirical legal research—specifically, a socio-legal approach. Data collection was conducted directly through interviews and questionnaires. The study population and sample comprised the Head of the Guidance Section, the Sub-section Head for Education and Community Guidance, and juveniles under supervision (both recidivists and non-recidivists). Research findings indicate that the implementation of rehabilitation programs for juveniles at the Class II LPKA (Juvenile Correctional Institution) in Pekanbaru City has not yet been effective. The primary cause is the absence of a rehabilitation model that distinguishes between recidivist and non-recidivist juveniles; instead, all juveniles are subjected to a standardized program. Internal obstacles include a shortage of rehabilitation staff and professional educators for formal schooling, as well as a lack of supporting facilities such as projectors and computers. External factors include insufficient parental supervision following release, the negative influence of social circles, and the juveniles' low levels of education and moral grounding. Efforts undertaken by the LPKA to address these challenges include optimizing the duties of existing personnel, enhancing staff competence, strengthening institutional partnerships with PKBM Pelita Riau and the Pekanbaru City Library Agency, involving families, and proposing the development of specialized, risk-assessment-based rehabilitation programs for recidivist juveniles.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-31